Kamis, 23 April 2009

Budidaya Rumput Laut Di Tambak



A. Persyaratan lokasi

  1. Pemlihan Lokasi

Untuk memulai usaha budidaya rumput laut ada beberapa factor yang menjadi pertimbangan diantaranya adalah :

Ø Lokasi harus terlindung dari ombak laut yang besar agar rumput laut tidak rusak.

Ø Kedalaman air pada pasang surut yang terendah berkisar antara 30-60 cm

Ø Dasar perairan terdiri dari pecahan karang mati dan berpasir

Ø Air jernih (tidak keruh) agar proses assimilasi berlangsung dengan baik, dan terhindar dari pencemaran limbah industri maupun buangan oli kapal, dan jauh dari sumber air tawar

Ø Salinitas air laut berkisar antara 30-40‰

Ø Suhu air laut antara 28-32 0 C antara 6,5-8

Ø kandungan oksigen terlarut berkisar antara 3-8 ppm.

  1. Pemilihan bibit

Pada dasarnya pemilihan bibit ini bertujuan agar pertumbuhan rumput laut menjadi baik, maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Ø Bibit berupa stek pilihan dari tanaman yang segar dapat diambiil dari tanaman yang tumbuh secara alami, ataupun dari tanaman hasil budidaya.

Ø Bibit yang akan ditanam bercabang banyak, utuh, tanpa luka, harus baru dan masih muda.

Ø Pengangkutan bibit harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat, bibit harus tetap basah attaupun terendam air laut.

Ø Sebelum dilakukan penanaman, bibit dikumpulkan pada tempat-tempat tertentu, misalnya keranjang atau jaring dan diusahakan bibit tidak terkena minyak, kehujanan dan tidak kekeringan.

B. Teknik Pemeliharaan

Metode pemeliharaan setiap rumput laut berbeda satu sama lainnya. Namun secara umum dikenal tiga metode pemeliharaan rumput laut berdasarkan letak bibit terhadap dasar perairan, yaitu :

1. Metode Dasar ( bottom methode )

Metode dasar adalah cara pemeliharaan dimana bibit ditebarkan di dasar perairan yang datar. Penanaman dengan metode ini dilakukan 2 macam :

Ø Bibit (thalus) dipotong dengan ukuran sekitar 20-25 cm dengan berat 75-100 gram, kemudian disebarkan pada dasar perairan.Cara ini dilakukan pada perairan yang relative diam.

Ø Bibit (thalus) setelah dipotong diikat pada batu karang atau balok semen, kemudian diatur berbaris dengan jarak 20-25 cm di dasar perairan. Cara ini dilakukan pada perairan yang ada ombaknya.

2. Metode Lepas Dasar ( off bottom method )

Metode ini dapat dilakukan pada dasar perairan yang terdiri dari pasir, sehingga mudah untuk menancapkan patok / pancang. Bibit ( thalus ) diikatkan pada tali atau jaring yang direntang diatas dasar perairan dengan pancang kayu atau.

Bahan-bahan yang digunakan dalam metode ini diantaranya :

· Potongan bambu attau kayu dengan ukuran 1-1,5 m dengan salah satu ujungnya runcing digunakan sebagai pancang.

· Tali plastic atau tali dari bahan monofilament, tali nilon no. 2000, sebagai tempat mengikat bibit.

· Tali raffia untuk mengikat bibit

· Apabila menggunakan jaring direntangan dengan patok, maka ukuran jaring 2,5 x 4 m2 dengan lebar mata jaring 25-30 cm.

Jarak tali atau jaring dengan dasar perairan kira-kira 25 cm. jarak bibit dengn bibit lainnya kira-kira 25 cm. bibit yang akan ditanam berukuran antara 100-150 gram, dalam satu petak direntangkan 10 monolisme (Tali plastik). Satu monoline terdapat 10 ikat, sehingga dalam satu petak

Terdapat 200 ikat atau kurang lebih 20 kg bibt.

  1. Metode Apung (Floating method)

Metoda terapung dilakukan dengan cara membuat rakit dari bamboo dan kayu yang ukurannya 2-4 meter. Metode ini memiliki dua modifikasi yaitu monoline dan net seperti yang dilakukan dengan metode dasar. Metode ini baik diterapkan di tempat yang pergerakan airnya berupa ombak atau lokasi yang dasar perairannya berupa karang yang keras ( sulit untuk menancapkan pancang ).

Agar rakit tidak tidak hanyut sebaiknya dipasang jangkar. Untuk efisensi pemakaian area. Menyatukan rakit dalam jumlah banyak akan berpengaruh jelek terhadap pertumbuhan rumput laut. Jumlah rumput laut yang disatukan sebaiknya 10 rakit dengan ukuran 2 x 5 m2.

C. Budidaya Rumput Laut di Tambak.

Selain dilaut rumput laut dapat dibudidayakan di tambak. Budidaya rumput laut di tambak lebih menguntungkan karena tanaman terhindar dari pengaruh ombak, arus laut yang kuat, dan binatang predator. Selain itu, proses pemupukan dan pengontrolan kualitas air lebih mudah dilakukan. Jenis rumput laut yang sering dibudidayakan di tambak adalah Glacilaria sp. Pembudidayaan Glacilaria sp. Di tambak masih bisa ditumpangsarikan atau polikultur dengan udang atau banding. Dengan catatan, budidaya udang dan bandeng bukan merupakan usaha utama dan harus menggunakan perbandingan tertentu. Perbandingan antara rumput laut,bandeng dan udang windu biasanya 1 ton : 1.500 ekor : 5.000 ekor.

Budidaya rumput laut secara polikultur ini sangat menguntungkan karena selain memperoleh pendapatan tamabahan dari penjualan bandeng dan udang, bandeng jugan bisa mengurangi lumut (klekap) yang menempel pada rumput laut. Lumut (klekap) merupakan pakan alami untuk bandeng. Bandeng glondongan (bibit bandeng yang agak besar) ditebar pada hari ketujuh sampai kesepuluh setelah penanaman rumput laut dengan padat penebaran 1.500 ekor. Seminggu kemudian, udang tokolan (bibit udang yang agak besar) ditebar dengan padat penebaran 5.000 ekor.

Selasa, 14 April 2009

Pembesaran Udang Galah


I. Persiapan tambak

Persiapan tambak merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam melakukan budidaya dengan tujuan mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam persiapan tambak ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :

a. Kontruksi tambak

· Persiapan kontruksi tambak pada intinya adalah mengkondisikan seluruh kontruksi tambak hingga siap dioperasikan. Kontruksi tambak yang harus diperhatikan adalah tanggul, pintu air dan papan pengarah pintu air

· Perbaikan struktur tanah tanggul dengan kokoh agar tidak terjadi kebocoran tanggul

b. Tanah dasar tambak

· Pengangkatan lumpur bertujuan untuk mengangkat lapisan sedimen. Waktu yang efektif yaitu pada saat lumpur masih basah sehingga mempercepat pengangkatan lumpur.

· Pengeringan total dasar tambak dilakukan dengan cara penjemuran selama 2 – 3 hari (tergantung cuaca)

· Pembakaran jerami yang bertujuan untuk memberantas hama dan bibit penyakit.

c. Pengapuran tambak

· Kapur yang digunakan kapur pertanian, caranya disebar secara merata keseluruh tanah dasar tambak dan dinding tambak.

· Kebutuhan kapur per hektar tergantung derajat keasaman tanah tambak (pH). Umumnya, tanah tambak yang sudah beberapa kali digunakan untuk pemeliharaan udang pH nya rendah karena terjadi proses pembusukan bahan organik berupa sisa pakan dan kotoran sehingga menghasilkan asam dari proses oksidasi.

· Semakin rendah pH tanah, maka jumlah kapur yang diperlukan juga semakin banyak.

d. Persiapan air dan penumbuhan pakan alami

· persiapan tambak paling akhir adalah mengisi air dan menumbuhkan pakan alami. Pakan alami masih sangat dibutuhkan oleh benur yang baru ditebar. Jenis pakan alami yang dibutuhkan adalah diatom dan zooplankton, tumbuhnya pakan alami dengan memberi pupuk kimia (NPK) jangka waktu penumbuhan pakan alami selama satu minggu.

· Jenis pupuk yang digunakan perbandingan 3 : 1 yakni 2,5 gram/m2 air tambak dan TSP 1 gram /m3 air tambak, dilakukan pengisian air 10 cm, pemupukan kedua dapat dilakukan seminggu kemudian, ketinggian air ditinggikan menjadi 20 cm.

·

II. Penebaran benur

1. Pemeliharaan

Benih udang yang siap dipelihara di kolam adalah benih udang stadia juwana atau tokolan. Pemeliharaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

a. Monokultur

Pemeliharaan secara monokultur adalah pemeliharaan udang di kolam tanpa dicampur dengan ikan lain. Padat penebaran sebanyak 5-10 ekor/m² bila pemberian pakan tidak intensif dan 20-30 ekor/m² dengan pemberian pakan secara intensif.

b. Polikultur

Pemeliharaan secara polikultur adalah pemeliharaan udang di kolam disatukan dengan ikan lainnya. Adapun yang dapat dibudidayakan dengan udang adalah ikan mola, ikan tawes, ikan nilem, dan ikan “big head”. Padat penebaran ikan 5-10 ekor/m² ukuran 5-8 cm. selama pemeliharaan dapat dilakukan pemupukan susulan setiap 2-3 minggu berupa urea 3-5 kg dan TSP 5-10 kg/Ha kolam.

2. Pemberian pakan

Selain makanan alami selama pemeliharaan udang galah perlu dibarikan pakan tambahan berupa pelet udang dengan kadar protein 25-30 % karena makanan alami yang tersedia tergantung pada tingkat kesuburan perairan kolam. Pada pemeliharaan secara monokultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 20 % menurun sampai 5 % dari berat badan total populasi, dengan frekuensi pemberian 4-5 kali sehari, sedangkan pada pemeliharaan secara polikultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 6 % menurun sampai 3 % dari berat badan total populasi dengan frekuensi pemberian 4-5 kali sehari.

3. Pengendalian hama dan penyakit

a. Predator

Predator pada pemeliharaan udang galah dikolam adalah beberapa jenis ikan seperti catfish (lele lokal) dan Snakehead, burung dan ular. Kepiting merupakan pengganggu juga karena hewan tersebut melubangi pematang kolam. Untuk mencegah masuknya hewan predator, pada saluran pemasukan air dipasang saringan dan disekeliling pematang dipasang net setinggi 60 cm.

b. Penyakit

Penyakit yang banyak menyerang udang galah adalah “Black spot” yaitu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri dan kemudian diikuti oleh timbulnya jamur, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian dan menurunnya mutu udang. Untuk pencegahan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri. Ini digunakan obat antibacterial yang diberikan secara oral melalui pakan.

4. Pengelolaan kualitas air

Timbulnya penyakit pada udang biasanya disebabkan oleh kualitas air pada kolam kurang baik. Hal ini biasanya diakibatkan oleh padat penebaran yang terlalu banyak, rendahnya kandungan oksigen, pengaruh suhu serta tingginya derajat keasaman (pH) sehingga dapat menimbulkan banyak kematian. Air yang dipakai dalam pembesaran udang galah di kolam sebaiknya bebas dari polusi dengan kandungan oksigen lebih dari 7 ml/l, suhu optimum 27-30ºC, derajat keasaman (pH) 7,0-8,5 dan kesadahan total antara 40-150 mg/l.

5. Pemanenan

Pemanenan udang galah dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

c. Panen total

Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara total, sehingga produksi total dapat segera diketahui. Kerugian system ini adalah udang yang masih kecil ikut dipanen serta membuang air yang telah kaya dengan organisme dan mineral.

d. Panen selektif

Panen selektif dilakukan dengan menggunakan jaring tanpa harus mengeringkan kolam, yang tertangkap hanya udang ukuran tertentu saja. Pemanenan selanjutnya tergantung kepada tingkat pertumbuhan udang. Kerugian system ini adalah banyak membutuhkan tenaga dan bila ada ikan predator tidak dapat dibersihkan dari kolam.